Preaching

ADVANCING THE GOSPEL: PASSION (2/8/17)

Kisah Para Rasul 28:17-29 
“Itulah sebabnya aku meminta, supaya aku melihat kamu dan berbicara dengan kamu, sebab justru karena pengharapan Israellah aku diikat dengan belenggu ini.” (Kis. 28:20) 

 

Let’s try this: duduk diam selama satu menit penuh, sendirian, tanpa melakukan apa pun, termasuk mengecek HP. Apa yang kita pikirkan selama semenit itu? Apa kita berpikir untuk scrolling timeline Instagram atau medsos kita yang lain? Apa kita memikirkan hal-hal yang harus kita lakukan pada hari itu? Apa kita memikirkan masalah yang sedang kita hadapi? 

 

How many of us think about God and what He has done for us? 

 

Surfers, kemarin kita sudah belajar dari contoh yang ditunjukkan Paulus: ia memiliki kepedulian pada mereka yang belum percaya, dan ia juga yakin dan bersandar pada kedaulatan Allah untuk menyelamatkan jiwa. It’s not up to us. We are called not to save anybody, but to preach the gospel and have the same concern for others’ souls and the same confidence in God’s sovereignity. Namun, ada satu hal mendasar yang mendorong Paulus rela mengorbankan begitu banyak hal dan menghadapi begitu banyak kesulitan: pengharapan Israel. 

 

Apa itu pengharapan Israel? Jika kita membaca Perjanjian Lama dan mengikuti sejarah perjalanan bangsa Israel, kita tahu bahwa mereka menanti-nantikan janji kedatangan Mesias yang akan memulihkan kerajaan mereka. Itulah sebabnya murid-murid menanyakan apakah Yesus mau memulihkan kerajaan bagi Israel pada masa itu (Kis. 1:6). 

 

Bagi Paulus, pengharapan Israel itu bukan sesuatu yang belum terjadi. The hope of Israel has arrived in and through the person and the work of Jesus Christ. Karena kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya, kerajaan Allah sudah datang bagi orang-orang berdosa. Ketika mereka percaya, dosa-dosa mereka diampuni – mereka diselamatkan bukan karena usaha mereka sendiri, namun karena kasih karunia Allah. There is no one that’s too far off. There is no one whose sin is too great. No past is too checkered. No reputation too marred. That’s the good news – the gospel. 

 

Because of his passion for the gospel, Paul put the gospel on his top priority. Dan itulah yang seharusnya setiap orang percaya lakukan. Bukan berarti kita harus memenuhi seluruh status atau obrolan kita dengan ayat-ayat Alkitab… bukan berarti kita harus melayani full-time di gereja… namun kita harus menyadari apa prioritas dan fokus utama kita dalam hidup.  

 

Do we have the same passion for the gospel, like Paul? 

 

 

“I am not ashamed of the gospel, for it is the power of God into salvation for everyone who believes.” (Romans 1:16) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s